Senin, 02 April 2012

PEMBELAJARAN BIPA MATERI CERITA RAKYAT


Dalam pembelajaran ini selain melatih keterampilan menyimak, siswa juga terampil menulis dan berbicara.
Skenario pembelajarannya adalah sebagai berikut.

1.     Guru menyiapkan  salah satu cerita rakyat berupa teks atau rekaman maupun video, misalnya legenda Roro Jongrang, siswa disuruh menyimak cerita tersebut dengan baik.
2.    Guru menjelaskan isi cerita dan siswa menyimak dan menanggapi.
3.    Setelah menyimak, guru melakukan tanya jawab mengenai isi cerita maupun tentang kata-kata yang sulit dalam cerita.
4.    Siswa menuliskan kembali isi cerita dengan menggunakan bahasa sendiri.
5.    Siswa menyampaikan cerita dengan menggunakan bahasa sendiri di depan kelas.
6.    Guru menanggapi dan menilai hasil tugas siswa.


Roro Jonggrang



Alkisah pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar yang bernama Prambanan. Rakyat Prambanan sangat damai dan makmur di bawah kepemimpinan raja yang bernama Prabu Baka. Kerajaan-kerajaan kecil di wilayah sekitar Prambanan juga sangat tunduk dan menghormati kepemimpinan Prabu Baka.

Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya. Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso. Dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung, sehingga Bondowoso terkenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain mempunyai senjata yang sakti, Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara berupa Jin. Bala tentara tersebut yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membantunya untuk menyerang kerajaan lain dan memenuhi segala keinginannya.

Hingga Suatu ketika, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging itu kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang berupa Jin untuk berkumpul, dan langsung berangkat ke Kerajaan Prambanan.

Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka dan pasukannya kalang kabut, karena mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso berhasil menduduki Kerajaan Prambanan, dan Prabu Baka tewas karena terkena senjata Bandung Bondowoso.
Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Kemudian Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati Istana Prambanan dan mengurus segala isinya,termasuk keluarga Prabu Baka.

Pada saat Bandung Bondowoso tinggal di Istana Kerajaan Prambanan, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita tersebut adalah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Saat melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso langsung memanggil dan melamar Roro Jonggrang.

“Wahai Roro Jonggrang, bersediakah seandainya dikau menjadi permaisuriku?”, Tanya Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang.
Mendengar pertanyaan dari Bandung Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang hanya terdiam dan kelihatan bingung. Sebenarnya dia sangat membenci Bandung Bondowoso, karena telah membunuh ayahnya yang sangat dicintainya. Tetapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya setelah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara supaya Bandung Bondowoso tidak jadi menikahinya.

“Baiklah,aku menerima lamaranmu. Tetapi setelah kamu memenuhi satu syarat dariku”,jawab Roro Jonggrang.
“Apakah syaratmu itu Roro Jonggrang?”, Tanya Bandung Bandawasa.
“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam”, Jawab Roro Jonggrang.
Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Dia merasa bahwa itu adalah syarat yang sangat mudah baginya, karena Bandung Bondowoso mempunyai balatentara Jin yang sangat banyak.
Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang berupa Jin tersebut datang. Setelah mendengar perintah dari Bandung Bondowoso, para balatentara itu langsung membangun candi dan sumur dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.
Roro Jonggrang kemudian berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya.

Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang akhirnya menemukan jalan keluar. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi,sehingga para Jin tersebut menghentikan pembuatan candi.
Roro Jonggrang segera memanggil semua dayang-dayang yang ada di istana. Dayang-dayang tersebut diberi tugas Roro Jonggrang untuk membakar jerami, membunyikan lesung, serta menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.

Mendengar perintah dari Roro Jonggrang, dayang-dayang segera membakar jerami. Tak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, dan lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar mulai tercium, dan ayam pun mulai berkokok.

Melihat langit memerah, bunyi lesung, dan bau harumnya bunga tersebut, maka balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka pikir hari sudah mulai pagi, dan mereka pun harus pergi.

Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: “Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah untuk menyelesaikan pembangunan candi ini !!!”
Para Jin tersebut tetap pergi, dan tidak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa sangat kesal, dan akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang lalu menghampiri Bandung Bondowoso. “Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso”, kata Roro Jonggrang.
Mendengar kata Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso sangat marah. Dengan nada sangat keras, Bandung Bondowoso berkata: “Kau curang Roro Jonggrang. Sebenarnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk menjadi arca yang ada di dalam candi yang keseribu !”

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah menjadi arca/patung. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, dan nama candi tersebut dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candi-candi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu atau Candi Seribu.

Pertanyaan:
1.     siapa yang ingin melamar Roro Jongrang?
2.    apa nama candi yang telah dibuat Bandung Bondowoso?
3.    di mana Roro Jongrang tinggal?
4.    syarat apa yang diberikan Roro Jongrang kepada Bandung Bondowoso?
5.    apa amanat dari cerita rakyat tersebut?


PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING (BIPA) MATERI WISATA KULINER


Bicara soal kuliner pasti sangat menyenangkan bukan? Kalau berkunjung ke suatu daerah atau negara pasti yang terlintas di kepala kita adalah makanannya apa dan bagaimana rasanya. Makanya di dalam pembelajaran BIPA sangatlah perlu membahas tentang wisata kuliner. Apalagi di Indonesia banyak sekali makanan khasnya, misalnya ada gudeng Yogyakarta, soto Betawi, soto Banjar,  rawon Surabaya dan sebagainya. Saya pastinya sangat suka dengan makanan khas Banjar. Jadi wisata kuliner kita temanya makanan khas banjar. Kita sebagai guru BIPA haruslah kreatif dalam mengajar. Selain membawa langsung murid ke tempat wisata tersebut, kita juga bisa mengajarkan mereka tentang wisata kuliner dengan menggunakan foto-foto makanan itu lalu kita tampilkan menggunakan LCD.




soto Banjar = Banjar Soup


ketupat Kandangan



lepat (dalam bahasa Banjar "buras") =snack made of sticky rice wrapped in Banana leaves


sup sayur asem (sour vegetable soup)



aneka kue Banjar ( Banjar variuos cakes )





wisata kuliner pasar terapung Banjarmasin
(floating market culinary Banjarmasin)





Minggu, 11 Maret 2012

Soal yang membuat GALAU setengah Hidup




Akhirnya waktu itu datang juga dan aku ikut test. Aku bersama temanku  Lilis berangkat ke BJM dan kami bermalam di rumah Ibu dosen. Aku mendapat cerita dari ibu dosen kalau mereka sekeluarga juga terjangkit virus sakit mata. Oooooh Tuhan ,, aku sangat merasa sangat berdosa telah menyebar virus itu. Semakin merasa berdosalah saya. Berkat virus sakit mata itulah aku berusaha semampu mungkin agar aku bisa lulus test.
Waaaaww, saat aku, lilies dan ka Arsyad datang ke kampus untuk melakukan test kuliah, aku pun terkejut kok banyak sih orang yang mau datang untuk test juga. Hahaha, namanya juga seleksi nasional, pasti banyak, apalagi Unlam adalah universitas unggulan. Bahkan jalan unlam yang luas pun terasa sesak dan padat sekali oleh ribuan kendaraan. Aku dan temanku hanyalah berjalan kaki. Biarlah kataku ini adalah perjuangan.

Sebelum test aku mencari  tempat dudukku, dan aku duduk di hampir paling belakang. Aku duduk di kursi yang sangat beda dengan waktu aku sekolah dulu. Kursinya langsung dengan mejanya dan dapat dilipat, sedangkan waktu sekolah mejanya lebih besar dan kursinya sandarannya lebih lebar. Aku duduk dan menatap ke samping ke kiri dan ke kanan, ke belakang dan ke muka. Ku lihat semuanya cowok. Wah aku adalah cewek di tengah-tengah empat cowok. Ibarat ada yang ganteng, pasti udah aku ajak kenalan. Hahahaha..
Aku duduk dengan manis menunggu dosen pengawas datang membagi soal, aku pecet HP ku ku hubungi semua teman-temanku, memohon agar didoakan lulus. Setelah semuanya aku hubungi. Aku berdoa dalam hati, membaca shalawat, surah Al-Insyirah hingga membaca surah yaasiin (hehehe, bercanda. Kepanjangan dan habis waktunya nanti gak jadi jawab soal). Aku dengan semangatnya menjawab soal. Mula-mula aku jawab yang mudah dengan santai sekali. Akhirnya aku mau kehabisan waktu, aku jawab semuanya soal dengan asal-asal dan berharap jawaban itu benar. Kata cowok di sebelah aku kok kamu menjawab asal-asalan siih, kan kalau salah dapat minus 1. Dan akhirnya waktu habis dan aku mengasihkan lembar jawabanku. Setelah keluar ruangan aku pun menjadi galau teringat jawabanku yang asal-asalan itu. Lalu aku jalan-jalan ke DM bersama Lilis untuk menghilangkan rasa galau. Aku enjoy sekali di DM. Dan aku beli baju yang harganya 90 ribu. Dan lebih membuat aku tambah galau adalah baju yang beli di pasang di rumah kok gak pas (ya iyalah dipasang di rumah, bayangkan aja situ, gak pas kan?). Tapi aku senang bisa beli buku di gramedia judulnya “Bumi Cinta” karya Habiburrahman penulis idolaku. Aku sangat senang bisa beli novel dan bantal bulu-bulu pink, yang sekarang ini udah kumal sekali karena sering dipakai untuk tidur dan tidurnya molor keluar liur. Sayang banget ya..

Sorenya kami pulang ke rumah ibu dosen,  kata bu dosen kok kalian baru datang, dari tadi ka Arsyad nungguin kami berdua sampe berlumut katanya. Hahaha.. Kasian juga kata kami. Dia juga sih gak ada sms (menyalahkan orang lain, padahal kami yang tidak minta izin ke DM. Hahaha)
Pada hari kedua aku dan lilies serta ka Arsyad mengikuti test lagi. Aku berharap agar jawabanku tidak membuat aku galau kayak hari kemarin. Aku berusaha menjawab dengan benar. Apalah daya tangan tak sampai, akhirnya aku nyerah juga menjawab dengan baik dan benar, karena soalnya memang sangatlah sulit dan di sekolah malah tidak pernah aku belajar seperti itu. Akhirnya aku asal-asalan menjawabnya, yang mana huruf dan bacaannya yang pina bungas ( bahasa Indonesianya agak cantik) itulah yang aku pilih. Aku bisa menjawab dengan tepat waktu malah waktu yang tersisa adalah sekitar sejam lagi. Aku yakin dengan jawabanku dan berusaha untuk tidak galau. Sekian lama menunggu akhirnya keluar ruangan juga. Dan bisa pulang ke Negara.

Kami bertiga pun pulang cepat-cepat dan kayaknya taksi mau jemput di depan rumah ibu dosen. Ternyata malah kami yang menunggu. Kami yang lagi galau dan cepat mau pulang kampung. Di suruh makan dulu, malah kami menolak dan duduk bengong di teras. Dan berharap karena yakin nanti bisa singgah makan di rumah makan. Eehh, ternyata dalam perjalanan kami tidak ada singgah untuk makan. Untung tadi ada makan kue bekas membeli di depan gang. Perut lapar yang sangat menyiksa ini membuat kami malah tidak bahagia dan tambah galau.  Singgah di Kandangan pun tidak. Aku berharap sampe di rumah ada makanan yang enak yang sudah disiapkan oleh mama. Ternyata di rumah hanya ada sisanya saja. Itulah yang aku makan.

Pesan saya: janganlah tergesa-gesa dan hargailah pemberian orang.