Jumat, 21 Juni 2013

FOLKLORE "BAHASA RAKYAT"


SASTRA BANJAR II


FOLKLOR INDONESIA
“BAHASA RAKYAT”


Dosen pengampu
Drs. Rustam Effendi, M.Pd., Ph.D.

Oleh
Kelompok 1
    Muliani Rahmah               A1B110048
    Mustikasari                       A1B110025
    Rusmaliana                        A1B110028
    Lisa Wulandari                  A1B110036
    Paulina Nuvianti                A1B110235
    Rezki Amelda                    A1B110010




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2012

A.    PENDAHULUAN

Folklor adalah pengidonesiaan dari kata Inggris Folklore yang baerasal dari dua kata yaitu Folk dan Lore. Folk sama artinya dengan kolektif (collectivity). Menurut Dunles adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Jadi folk adalah sinonim dari kolektif, yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat.Lore adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat Bantu pengingat.
Definisi folklore secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja , secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat Bantu pengingat.
Beberapa foklor lisan Indonesia yaitu: a). Bahasa rakyat, b). Ungkapan tradisional, c). Pertanyaan tradisional, d). Sajak dan puisi rakyat, e). Cerita prosa rakyat, dan f). Nyanyian rakyat.

B.     PEMBAHASAN

Bahasa rakyat adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam hidup sehari-hari. Seperti: logat,dialek, kosa kata bahasanya, julukan.
a)      Bentuk-bentuk folklore bahasa Rakyat yaitu:
1.      Logat
Bentuk foklor Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat adalah logat (dialect) bahasa-bahasa Nusantara, misalnya logat jawa dari Indramayu, yang merupakan bahasa Jawa Tengah yang telah mendapat pengaruh bahasa Sunda, atau logat bahasa Sunda dari Banten, ataupun logat bahasa Jawa Cirebon, dan logat bahasa Sunda Cirebon.
Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang berkembang dari Bahasa Melayu.Asal bahasa ini berada di propinsi Kalimantan Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, Alai dan lain-lain.Bahasa Banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak. Bahasa Banjar atau sering pula disebut bahasa Melayu Banjar terdiri atas tiga komunitas besar yaitu Bahasa Banjar Kuala, Bahasa Banjar Pahuluan dan Bahasa Melayu yang terangkum dalam berbagai logat.
Bahasa Banjar Hulu merupakan logat asli yang dipakai di wilayah Banua Enam. Amuntai, Alabio, Negara dan Margasari merupakan kelompok Batang Banyu, sedangkan Tanjung, Balangan, Kandangan, Rantau merupakan kelompok Pahuluan.
 Logat Bahasa Banjar Kuala yaitu bahasa yang dipakai di wilayah Banjar Kuala terdiri atas Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, serta kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Bahasa Banjar Kuala dituturkan dengan logat datar tanpa intonasi tertentu, jadi berbeda dengan bahasa Banjar Hulu dengan logat yang kental (ba-ilun). Logat Banjar Kuala yang asli misalnya yang dituturkan di daerah Kuin, Sungai Jingah, Banua Anyar dan sebagainya di sekitar kota Banjarmasin yang merupakan daerah awal berkembangnya kesultanan Banjar.
Perbandingan Logat pengucapan Bahasa Banjar Hulu dengan Bahasa Banjar Kuala
a.      Perbedaan dalam Kosa Kata
Banjar Hulu               Banjar Kuala                         Indonesia
baduhara                     bakurinah                                dengan sengaja
bibit                             jumput/ambil                           ambil
caram                           calap                                        tergenang air
ampah                          mara                                        arah
hagan                           gasan                                       untuk
gani'i                            dangani                                   temani
arai                              himung                                    senang
ba-cakut                      ba-kalahi                                  berkelahi

b.      Perbedaan dalam pengucapan fonem:
Banjar Hulu                 Banjar Kuala               Indonesia
anggit-ku                     anggih-ku                    punya-ku
hanyar                         anyar                           baru
halar                            alar                              sayap
intang                          pintang                                    sekitar
ma-harit                       ma-arit                         menderita

Contoh Logat Banjar Hulu
1.      Hagan apa hampiyan mahadang di sia, hidin hudah hampai di rumah hampian (Logat Kandangan)
2.      Sagan apa sampiyan mahadang di sini, sidin sudah sampai di rumah sampiyan. (Banjar)
3.      Inta intalu sa’igi, imbah itu ambilakan buah nang warna abang awan warna ijau sa’uting dua uting. Jangan ta’ambil nang igat (Logat Amuntai)
4.      Minta hintalu sabigi, limbah itu ambilakan buah nang warna habang lawan warna hijau sabuting dua buting. Jangan ta’ambil nang rigat.(Banjar)
2.      Slang
 Bentuk lain bahasa rakyat adalah slang. Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language (1959), asal slang adalah kosa kata dan idiom para penjahat gelandangan atau kolektif khusus. Maksudnya diciptakannya bahasa slang ini adalah untuk menyamarkan arti bahasa terhadap orang luar. Pada masa kini bahasa slang dalam arti khusus itu (bahasa rahasia) disebut cant. Di Jakarta cant adalah istilah-istilah rahasia yang digunakan tukang copet seperti: jengkol dan rumput. Jengkol yang sebenarnya berarti buah semacam buah petai, tetapi lebih besar bentunya. Dalam bahasa latin buah itu di sebut pithecolimbium lobatum Benthbagi para pencopet atau jambret jengkol diartikan kaca mata. Hal ini di sebabkan karena bentuk jengkol mirip dengan kaca mata itu.Istilah ini di pergunakan seorang pencopet atau penjambret menyuruh kawannya untu merampas kaca mata oarng yang mereka hendak mereka jadikan korbannya.
 Rumput yang artinya adalah tanaman kecil yang mempunyai daun berbentuk pedang dab nerupakan makanan hewan, bagi seorang pencopet berarti polisi, karena warna pakaian seoreang polisi adalah hijau seperti rumput. Jadi jika seorang pencopet memperingatkan kawannya bahwa ada seorang polisi rahasia diantara mereka,ia berkata ” awas ada rumput ”. Demikian seorang pencopet akan berkata “Awas adacabai ” untuk memperingatkan kawan-kawannya apabila didekatnya ada RPKAD . hal ini di sebabkan karena warna baret anggota pasukan RPKAD adalah merah, jadi sama dengan warna cabai merah (capsicum annuum) di Jakarta cant juga di miliki para wadam (banci laki-laki), yang melakukan prostitusi untuk mencari nafkah. Mereka mengembangkan kosa kata cant unyu melindungi sesamanya dari dari kejaran polisi rahasia. Para Wanita tuna susila di Jawa Tengah pada zaman dahulu juga mampunyai bahasa cant, yang mereka bentuk dengan cara menambahi suku kata se pada akhir setiap suku kata dalam satu kata yang mereka ucapkan, seperti kowe (engkau) setelah ditambahi kosa kata se menjadi kosewese.
Cant khusus milik penjahat sering juga disebut argot. Bentuk cant atau bahasa rahasia yang lain adalah yang dimiliki para homoseks (gay) laki-laki di Jakarta yang mencari nafkah sebagai penata rambut, perancang pakaian, peragawan, dan sebagainya. Cara mereka mengubah bahasa rahasia mereka adalah dengan cara menyisipkan suku kata in di dalam setiap istilah Indonesia atau daerah yang mereka pergunakan. Misalnya istilah banci setelah di sisispkan dengan suku kata ini menjadi binancini, bule menjadi binuline dan cakep menjadi cinakinep.
 Bentuk cant lainnya yang patut mendapat perhatian para ahli foklor adalah yang berlaku di antara para remaja Jakarta. Cara mereka mneciptakan bahasa rahasia mereka adalah dengan cara menukan konsonan suku kata pertama ke suku kata kedua dan sebaliknya dari dua istilah. Umpamanya istilah bangun setelah di tikar konsonanya dari kedua suku katanya berubah menjadi ngabun, kata makan menjadi kamakan,kata baca menjadi caba,, dan terus menjadi retus. Contohnya dalam bahasa banjar,
Bahasa rakyat lainnya yang mirip dengan slang adalah shop talk, atau bahasa para pedagang.
Selanjutnya adalah bentuk lain slang adalah colloquical yakni bahasa yang menyimpang dari bahasa konvensional.
Bahasa rakyat yang lain adalah sirkumlokusi (circumlokucution), yaitu ungkapan tidak langsung.
3.      Pemberian nama dan julukan
Bentuk bahasa rakyat lain di Indonesia adalah cara pemberian nama pada seseorang. Dalam pemberian nama bagi orang Banjar biasanya banyak yang menggunakan bahasa Arab. Misalnya untuk nama anak laki-laki misalnya Muhammad Arsyad, Ahmad Bahruddin, dan untuk anak perempuan Siti Aisyah, Nur Laila.
Sehubungan dengan cara pemberian nama, di Indonesia juga ada kebiasaan untuk memberi julukan kepada seseorang. Selain nama pribadinya. Julukan orang banjar biasanya dipengaruhi oleh status sosial, pekerjaan, bentuk fisik, dan keturunan atau keluarga.
1.      status sosial, apabila sudah melaksanakan ibadah haji biasanya dipanggil Haji. baik laki-laki maupun perempuan. Misalnya Haji Udin, Ma Haji Asiah.
2.      Pekerjaan, misalnya Amin Ojek artinya Amin seorang yang pekerjaannya sebagai tukang ojek, Pambakal Aji artinya Aji adalah seorang yang pekerjaanya sebagai kepala desa.
3.      Bentuk fisik, misalnya Amat Lamak artinya Amat yang bertubuh gemuk.
4.      Keturunan atau keluarga, misalnya Abah Midah artinya ayahnya Midah. Siti Udin artinya Siti istrinya Udin.
Di jawa Tengah misalnya, orang Jawa tidak mempunyai nama keluarga. Untuk memberi nama pada seorang anak, para orang tuanya harus memperhitungkan tanggal dan hari lahirnya, sehingga sesuai dengan nama yang kan diberikan. Orang Jawa kan menukanr nama pribadinya setelah ia dewasa, akan menukar nama lagi namanya apabila ia kemudian mendapat kedudukan di dalam pemerintahan, dan akan menukar namanya lagi sesuai dengan kedudukannya yang baru apabila kemudiannya naik pangkat.
Di antara orang Betawi (Jakarta asli) julukan itu biasanya ada hubungan erat dengan fisiognami atau bentuk tubuh si anak. Umpamanya dengan nama anak akan dijuluki si pesek,apabila bentuk hidungnya pipih. Atau akan dijuluki nama si jantuk apabila dahinya sangat menonjol.
 Penukaran nama sering dilakukan orang Indonesia dengan nama yang lebih jelek, atau jelek sekali, karena ada keprcayaan bahwa nama bagus terlalu yang telah diberikan bersifat terlalu “panas” bagi anak tertentu. Sehingga ia terus jatuh sakit, atau mengalami kecelakaan. Nama-nama itu misalnya si pengki (keranjang penyaup sampah) dan si bakul (keranjang).Di Jawa Tengah dan di Jawa Timur nama-nama yang di anggap dapat menambah kesehatan dan rezeki seorang anak adalah Subur dan Timbul. Di antara orang Cina totok daru suku bangsa Haka ada kepercayaan bahwa jika putranya disebut dengan nama manusia akan diganggu roh jahat. Maka untuk menghindari gangguan itu putranya disebut dengan julukan A kew yang berarti anjing.
4.      Gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional
Bentuk folklore lainnya yang juga termasuk dalam golongan bahasa rakyat adalah gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional.Gelar kebangsawanan kerajaan Banjar seperti pola lapisan sosial kerajaan lainnya di nusantara menunjukkan pola status sosial menurut keturunan. Bentuk lapisan sosial pada waktu itu secara besar terbagi 2 kelompok, yaitu: Tutus dan Jaba.
Tutus adalah golongan keturunan dari raja.Turunan raja ini terbagi menjadi turunan raja yang menang dan turunan raja yang kalah (dalam perebutan kekuasaan).Kedua jenis turunan ini termasuk tutus dengan berbagai gelar kebangsawanan yang disandangnya sesuai dengan tingkatan keturunan dan asal dari keturunan tersebut.
Gelar-gelar kebangsawanan yang disandang sesuai dengan tingkatan secara berurutan sebagai berikut: Pangeran dan Ratu (pangeran untuk turunan terdekat dengan raja jika pria, sedangkan ratu untuk wanita); Gusti, Antung atau Raden, Nanang atau Anang. Untuk gelar kebangsawanan dari raja yang kalah; Pangeran dan Ratu, Andin, Rama.
Golongan tutus inilah yang berhak untuk memegang jabatan penting dalam kerajaan serta memiliki daerah/wilayah kekuasaan.Pada masa kerajaan, golongan tutus ini sangat dominan pengaruhnya dalam kehidupan rakyat karena diyakini memiliki kekuatan gaib dan kharisma yang tinggi. Gelar kebangsawanan yang diperoleh tutus ini sifat dan fungsinya turun temurun, misalnya ayahnya bergelar Gusti maka anak-anaknya otomatis akan mendapat gelar Gusti juga. Begitu juga jabatan dalam kerajaan yang dipegang oleh orang tuanya akan diwariskan langsung kepada anak.
Jaba adalah golongan rakyat biasa bukan keturunan bangsawan.Lapisan sosial ini hidup dengan berbagai macam pekerjaan seperti pedagang, petani, tukang kayu dan sebagainya.Golongan ini seperti teori piramida merupakan golongan terbesar dari rakyat kerajaan Banjar. Untuk jaba yang memiliki prestasi bagi kerajaan, mereka akan dianugerahi oleh sultan dengan jabatan serta gelar yang boleh dipakai selama hidup mereka. Gelar-gelar bagi jaba yang memegang jabatan di pemerintahan adalah: Kiai Adipati, Patih, Tumenggung, Ronggo, Kiai, Demang dan Mangku, Tenarsa, Lurah atau Pambakal, Panakawan/Hahawar Ambun.
Gelar yang dimiliki oleh jaba ini hanya untuk tujuan fungsional dalam pemerintahan kerajaan yang diberikan sultan atas jasa-jasanya, gelar untuk golongan jaba tidak bisa diwariskan turun temurun.Misalnya ayahnya seorang Kiai Adipati yang memiliki gelar dan wilayah, setelah orang tuanya meninggal maka anaknya tidak dapat mewarisi gelar dan wilayahnya tersebut.
Meskipun dalam masyarakat Kerajaan Banjar mengenal lapisan sosial, tetapi dalam hal pernikahan tidak terlalu mengikat harus sama dari golongan atau gelar tertentu. Hal ini sering terlihat pada lelaki jaba yang ingin menikahi wanita tutus, maka harus diadakan penebusan yang dikenal dengan nama manabus purih atau ganti rugi atas turunnya martabat dari wanita tutus yang akan menikah. Jika hal ini tidak dilakukan ditakutkan pasangan itu akan mendapat katulahan (kualat) yang mengakibatkan bencana di kemudian hari. Wanita tutus yang menikah dengan pria jaba akan kehilangan hak waris gelar untuk anak-anaknya nanti.
5.      Bahasa bertingkat (speech level)
Bentuk lain dari folklore bahasa rakyat adalah bahasa bertingkat (speech level). Bahasa Banjar juga mengenal tingkatan bahasa (Jawa: unggah-ungguh), tetapi hanya untuk kata ganti orang, yang tetap digunakan sampai sekarang. Zaman dahulu sebelum dihapuskannya Kesultanan Banjar pada tahun 1860, bahasa Banjar juga mengenal sejenis bahasa halus yang disebut basa dalam (bahasa istana), yang merupakan pengaruh dari bahasa Jawa, disamping ada pula kosa kata yang diciptakan sebagai bahasa halus misalnya jarajak basar artinya tiang, dalam bahasa Banjar normal disebut tihang. Basa dalam merupakan bahasa yang sudah punah, tetapi sesekali masih digunakan dalam kesenian daerah Banjar.Di dalam Hikayat Banjar, banyak digunakan kata ganti diri manira (saya) dan pakanira (anda) yang merupakan varian bahasa Bagongan yang digunakan di Kesultanan Banten.
unda, sorang = aku ; nyawa = kamu → (agak kasar)
aku, diyaku = aku ; ikam, kawu = kamu → (netral, sepadan)
ulun = saya ; [sam]pian / [an]dika = Anda → (halus)
untuk kata ganti orang ke-3 (dia)
inya, iya, didia = dia → (netral, sepadan)
sidin = beliau → (halus)

Bahasa Indonesia      Bahasa Banjar (normal)       Basa dalam
istana                           rumah                                      dalam
digelar/didirikan          digalar                                     jumenang
berjalan                        bajalan                                     lumampah
minum                         nginum                                    dahar banyu
gigi                              gigi                                          waja
ikat kepala                   laung                                       bolang
dipanggil                     dikiaw                                     dikani
tersenyum                    takarinyum                              gamuyu
meninggal                    mati                                         séda
mandi                          mandi                                      séram
bunda                          uma                                         ibu
ayah                             abah                                         rama
6.      Onomatopoetic (onomatopoetic)
            Bentuk lain dari bahasa yang disebut kata-kata onomatopoetis (onomatopoetic), yakni kata-kata yang dibentuk dengan mencontoh bunyi atau suara alamiah. Contohnya adalah dalam bahasa Banjar, bunyi benda durian jatuh mandabuk, bunyi air mengalir mendisir, bunyi televisi yang sedang rusak sinyalnya barinjit, bunyi angin mendasau,bunyi musik dagum.
7.      Onomastis
Bentuk lain bahasa rakyat yang akan kami kemukakan disini adalah yang disebut onomastis, yakni nama tradisional atau tempat-tempat tertentu yang mempunyai legenda sebagai sejarah terbentuknya. Sudah tentu legenda itu tidak selalu dapat kita anggap sebagai sejarah sebenarnya. Contoh di Banjar, asal-usul kota Marabahan, yaitu;
Sebatang pohon Ulin besar menjulang tinggi di kawasan Margasari yang menjadi tempat tinggalnya seekor burung raksasa, membuat warga gusar oleh suaranya yang selalu mengganggu ketenangan penduduk.Setiap kali burung itu datang selalu saja berteriak-teriak pertanda malam sudah datang.Itu yang menjadi kemarahan penduduk, sehingga penduduk berinisiatif menebang pohon itu, agar burung raksasa itu pergi dari kampung mereka.Kata sepakat sudah didapat, mereka mulai menebang pohon Ulin itu dari hari ke hari dengan peralatan seadanya. Hingga akhirnya pohon itu tumbang, warga bersorak gembira, karena tak kan ada lagi suara burung yang memekakkan telinga di kampung mereka. Warga merasa aman.
 Note: ujung dari pohon yang tumbang itu mengenai sebuah kampong, dan warga menyebutnya dengan nama kampong “Karabahan”(sekarang, Marabahan).Sudah tentu kisah ini hanya berupa legenda saja dan bukan merupakan kebenaran sejarah.
 Sebenarnya kata onomastis berarti juga penelitian nama. Dapat pula dinamakan penelitian nama asal makanan, buah-buahan, dan juga alias atau julukan seseorang, dan lain-lain.
b)      Fungsi bahasa rakyat
Fungsi bahasa rakyat sedikitnya ada empat yakni: a. untuk memberi serta memperkokoh identitas folklornya (slang, cant, shop salk, argot, jargon, nama gelar, bahasa bertingkat, colloquial, onomatopoetic, dan onomastis); b. untuk melindungi folk pemilik folklore itu dari ancaman kolektif lain atau penguasa (slang, bahasa rahasia, dan cant); c. untuk memperkokoh kedudukan folknya pada jenjang pelapisan masyarakat (gelar atau bahasa bertingkat); d. untuk memperkokoh kepercayaan rakyat dari folknya (sirkumlokusi dan julukan atau alias yang diberikan kepada anak-anak yang buruk kesehatannya).

C.     KESIMPULAN
Bahasa rakyat adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam hidup sehari-hari. Seperti: logat,dialek, kosa kata bahasanya, julukan.
Bentuk-bentuk folklore bahasa rakyat; Logat, Slang, Pemberian nama dan julukan, Gelar kebangsawanan atau jabatan tradisional, Bahasa bertingkat (speech level), onomatopoetis (onomatopoetic), onomastis.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar