Sabtu, 06 Desember 2014

“Surat Kecil di Pembaringan Ayah”



By Muliani Rahmah, S.Pd. 
 
Terkisah seorang lelaki berumur 50 tahunan. Dia mengalami sakit parah, dia ditinggal seorang diri oleh anak dan istrinya di sebuah barak. Penyakitnya yang menular itulah yang membuat anak dan istrinya enggan merawatnya. Sungguh malang nasib ayah dari tiga anak itu. hingga akhirnya sang ayah menutup mata..
Aku ingin bertanya kepada kalian semua? Apa arti sosok ayah bagi kalian? Ya. Pasti jawaban kalian ayah adalah sosok yang sangat berarti setelah ibu kita. Setiap tetes keringatnya menjelma sebutir nasi, bahkan kalian bisa duduk di bangku sekolah adalah bukti dari kerja keras ayah kita. Siang malam beliau banting tulang. Bahkan ada yang rela merantau jauh dari keluarga. Seperti inilah yang dialami oleh seorang ayah yang bernama Pak Hadi, dia adalah ayah dari Miranti, Kinanti, dan Rahardi.
Pak Hadi adalah seorang ayah yang sangat pekerja keras. Dari beliau muda hingga sekarang. Sempat beliau bekerja merantau di hutan. Berbulan-bulan bahkan hingga setahun tidak pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan keluarga. Hidup di hutan tidak lah mudah. Banyak rintangan dan mara bahaya yang menghadang. Namun, semua itu ia lakukan demi menghidupi keluarganya di kampung.
Beberapa tahun kemudian, pemerintah melarang untuk menebang hutan, sehingga ia harus berpindah pekerjaan. Menjadi buruh perusahaan yang kerjanya dari pagi hingga menjelang malam. Tak kenal lelah ia bekerja demi anak-anak dan istrinya. Walaupun gajinya tak sebesar ketika ia kerja di hutan dulu.
Kini ketiga anaknya sudah ada yang menjadi Sarjana Ekonomi, yaitu Miranti, Rahardi Sarjana teknologi dan Kinanti masih kuliah di UNPAR.  Anaknya yang sudah lulus kuliah bekerja di perusahaan dengan gaji yang cukup besar. Sedangkan Kinanti anaknya masih kuliah sibuk pacaran. Dengan kesibukan mereka inilah ia tak memperhatikan orang tuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan. 
Karena kelelahan dan faktor usia, sang ayah pun sakit keras. Ketiga anaknya tak ada satu pun yang merawat, bahkan sang istri pun tak peduli. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hingga sang ayah nekad pergi ke kampung halamannya dan tinggal di rumah saudara.
“sia-sia aku menyekolahkan anak tinggi-tinggi kalau sudah sukses tidak ingat lagi dengan aku.” Ucap Pak Hadi dengan nada sedih dan meneteskan air mata.
Semakin hari sakit Pak Hadi semakin parah. Hingga dia dibawa ke rumah untuk dirawat secara intesif. Ternyata Pak Hadi terkena penyakit TBC, penyakit itu sangat menular.  Anak dan istri beliau pun masih tidak peduli dengan keadaannya yangs semakin parah ini.
Dengan perawatan dari dokter Pak Hadi pun berangsur membaik. Dan diperbolehkan pulang ke rumah. Melihat keadaan Pak Hadi, Ibu Hana saudara Pak Hadi yang juga sudah tua, dia tak tega melihat nasib Pak Hadi yang malang. Ia pun nekad menelpon istri dan anak Pak Hadi. Ia marah-marah kepada mereka yang telah menelantarkan Pak Hadi yang sedang sakit sendirian.
Sang anak dan istrinya pun disuruh menjemput sang Ayah pulang ke rumahnya. Dengan kesal dan perasaan tak ikhlas mereka pun membawa ayahnya pulang. Mereka terpaksa merawat sang Ayah. Ucapan-ucapan yang tak pantas dan menyakitkan hati sang Ayah pun dilontarkan. Dari pagi hingga sore sang Ayah ditinggalkan kerja. Tak ada yang mau memperhatikan sang Ayah. Akhirnya sang Ayah sakitnya semakin parah akibat perlakuan yang kasar yang membuat beban pikiran yang menyiksa batinnya. Ia pun malas meminum obat dan makan.
Saat malam tiba, sang Ayah tiba-tiba sesak napas. Napasnya terengah-engah. Dengan panik anak dan istrinya ingin membawanya ke rumah sakit. Namun, ditengah perjalanan sang Ayah menghembuskan napas terakhirnya.
Penyesalan pun menyelimuti hati sang istri dan anak-anaknya. Apalagi sebelum menguburkan mayat sang Ayah, anak yang kedua pun menemukan sebuah surat kecil di bawah kasur sang Ayah. Dia membaca surat itu dengan linangan air mata penyesalan.

Anak-anakku yang ayah sayangi.

Bertahun-tahun ayah hidup dan bekerja hanya untuk membahagiakan kalian. Ayah rela pergi ke hutan dan jarang bertemu kalian. Kalian tau itu, semua untuk kalian. Agar kalian bisa merasakan nikmatnya makan nasi dengan lauk yang enak. Agar kalian bisa merasakan indahnya masa muda dengan sekolah. Karena ayah tau, ayah adalah ayah yang bodoh. Ayah tak mau kalian bodoh seperti ayah yang tak bersekolah tinggi.  Ayah ingin  kalian jadi orang yang sukses. Tanpa harus susah payah cari kerja seperti ayah, ke sana ke mari mencari nafkah. Dari hutan ke hutan, dari daerah ke daerah. Jauh dari keluarga. Setiap tetes keringat ayah dan setiap tetes air mata ayah di setiap sujud ayah. Ayah titipkan doa dan rindu untuk kalian di rumah.  Ayah kenyamukan, kepanasan dan kedinginan di hutan. Ayah tak mengapa asal kalian di sana tidur dengan nyenyak.  Ayah tau kalian pasti malu punya ayah seperti ayah. Ayah tak bisa menjadi ayah yang kalian inginkan.
Anak-anakku sayang, kini ayah sudah tua. Dan tak bisa bekerja seperti dulu lagi. Ayah sudah tak berdaya lagi. Otot-otot yang dulu kuat mengangkat batang pohon besar, kini untuk berduduk pun ayah susah. Ayah tak mengharapkan apa-apa dari kalian. Cukup kasih sayang dan doa dari kalian saja. Ayah sayang kalian.  Ayah, hanya ingin kalian menjadi orang yang sukses. Apabila ayah sudah tiada lagi di dunia ini, hanya satu pinta Ayah, “ doakan ayah di setiap shalat kalian”.  

Sang Anak pun menangis dan berkata “Maafkan kami ayah!”

                                      “THE END”

Sosok ayah merupakan figur yang kuat dan pemimpin di dalam sebuah keluarga. Beruntunglah kalian yang memiliki ayah. Sesungguhnya di setiap tetes keringatnya ada kasih sayang yang tak terhingga. Di setiap perkataannya yang keras tak selembut ucapan ibu, namun dibalik itu semua ada kelembutan hati yang ditujukan untuk mendidik dan melindungi anaknya.  Doakanlah kedua orang tuamu, ukirklah senyum keduanya dengan prestasimu dan baktimu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar